Provokata Rilis Album Mini “Hantu Utopia”
SEMARANG – Provokata, sindikat pseudo-grindcore asal Semarang, sudah
mempersiapkan amunisi untuk dilontarkan dalam bentuk album mini. Sejak merilis
album “Catatan Dari Sudut Kota” pada 2014 lalu, kuartet ini belum menghasilkan
apa-apa selain dua lagu yang disajikan bersama beberapa lagu lain dalam album
kompilasi “And No One Can Prevent This Rage to Born!!!” (Stoned Zombies, 2016),
yakni “Vox Acta Diurna, Vox Dei” dan “Silenus (27:2)”.
Dalam rentang waktu 4 tahun, Provokata
nyaris dikatakan kurang produktif. Tentu, ada beberapa alasan yang membuat
Gagas Agung Sedayu (Gitar), Galang Aji Putro (Vokal), Vivid Wicaksono (Bass)
dan Rudy Kusdiyanto (Drum) baru berani merilis karya baru. Namun, paling tidak,
masih ada upaya untuk menunjukkan bahwa mereka belum habis.
Sebelum menutup April 2018, album mini
yang diberi judul “Hantu Utopia” akhirnya rilis pada Jumat (20/4) sebagai
konstelasi yang akan mengganggu tiap tidur yang lelap. “Tempat utopia tak hanya
menjadi sekadar mimpi. Kami tak pernah merasa semua baik-baik saja, tak pernah
aman, karena tak semua bergerak dalam lintasan yang sama. Ini, mimpi-mimpi
abadi manusia, bisa sangat mengganggu,” ujar Gagas.
Galang mengatakan, “Hantu Utopia” tak
lagi menyajikan puisi-puisi urban selayak album sebelumnya. Dalam hal ini,
Provokata menggunakan bahasa lirik yang lebih lugas. “Seperti yang tampak pada
pola “Catatan Dari Sudut Kota”, kami bemain di wilayah fundamental, menulis hal
remeh yang pernah kami alami secara nyata. Namun, kali ini pola liriknya lebih
eksplisit dan masih punya esensi seperti sebelum-sebelumnya,” ujarnya. Vivid
menambahkan, “Tiga dari lima lagu bahkan membahas tentang mistikisme, semacam afterworld dan hal tak tampak lainnya.”
Sekadar catatan, pada album sebelumnya,
sepuluh lagu Provokata tak menyita banyak waktu untuk diselesaikan. Hal yang
sama juga akan mereka sajikan dalam album mini kali ini. “Meskipun cuma
hitungan menit, album mini ini akan menjadi sesuatu yang ‘mengganggu’,” ujar
Rudy.
Terdapat 5 buah lagu dalam album “Hantu
Utopia” yang direkam selama rentang waktu 2015-2016 di dua studio berbeda,
yakni Al Studio dan Strato Studio. Proses mixing
dan mastering-nya sendiri dilakukan
di Iwod Creative Labs tahun lalu. Handa Holocaust, seniman visual yang juga
tergabung dalam grup musik punk, Kemarau, juga ditunjuk untuk mengeksekusi
sampul serta artwork pada bagian
dalam album. “Hantu Utopia” dirilis CD oleh label indepeden yang berbasis di
Semarang, Stoned Zombies, dalam jumlah terbatas.
[Benbenan/Amir]


Post a Comment