Unit Death Metal Asal Kota Boyolali DIMINISH PERCEPTION Rilis Album Baru Bertajuk "Monarki"
Tak ada yang menarik jika membahas sistem
Monarki. Hanya sebuah keniscayaan dan cukup rangkum sebagai kenangan. Manakala kedaulatan
tertinggi yang berada di tangan raja, maka raja
dapat melakukan apapun yang dia kehendaki. Hal ini dapat
menciptakan pemerintahan yang tirani dan dalam perkembangannya akan menadi diktator di negara yang
dia perintah, dengan serta merta membunuh kehendak bebas bagi rakyatnya. Peringatan ini yang coba disampaikan kolektif Death Metal
asal Boyolali, Diminish Perception. Lewat album mereka yang berjudul Monarki, kwartet ngebut ini siap
menampar mukamu, memporak poranda zona nyamanmu dan berkata “Sadarlah kita hidup sedang tidak
baik-baik saja kawan”.
“Kami tidak sedang bernostalgia dengan sistem monarki yang
kami tuangkan dalam album kami. Hanya membunyikan sebuah sirine tanda peringatan. Memang benar
dalam sistem Monarki mungkin tidak buruk. Namun sampai berapa lama?ketika raja yang baik
meninggal dunia dan digantikan putra mahkota yang lalim, bagaimana nasib rakyatnya?”, Tegas Bhima. Sebagai unit Death Metal yang berasal dari ujung Kota
Boyolali, tepatnya di Kemusu, mereka seolah tak patah arah untuk menunjukkan eksistensi skena bawah tanah di
Boyolali. Konsistensinya pun ter-refleksikan lewat sebuah karya album yang diberi
tajuk,“Monarki”. Monarki, sesuai namanya berasal dari Monos yang berarti Satu, dan Archein yang berarti
pemerintahan.
“Sejarah mencatat, saat Dinasti Umayyah meninggalkan
Musyawarah dalam menentukan pemimpin
baru dan mulai mengadopsi sistem Monaki, orang-orang di luar
garis keturunan Muawiyah bin Abu
Sofyan tidak mendapatkan kesempatan yang sama untuk naik
sebagai pemimpin pemerintahan umat islam. Maka hancurlah dinasti itu”, Ujar Ega menambahkan. Hal ini semakin diperkuat dengan tema-tema pada lagu yang
ada di dalam album Monarki itu sendiri. Sebut saja “Amunisick” yang berasal dari kata Amunisi dan
Sick. Dua kata tersebut bisa diartikan membinasakan. Dalam artian, membinasakan kaum-kaum pesakitan
yang tertindas tak memperdulikan nasib suatu kaum demi kepentingan sendiri untuk kejayaannya,
dengan berbagai cara untuk menjadi penguasa tanpa mendengarkan jeritan kaum-kaum tertindas
untuk mempertahankan diri memperjuangkan haknya yang semestinya didapatkan.
Kemudian materi lain yang cukup menarik adalah “Kepulan
Dosa”. Lagu yang kuat pada liriknya ini
berisi tentang, ketakutan akan bayang-bayang dosa yang
diperbuat seseorang di dunia. Hingga
membuatnya berfikir tentang nirwana yang tak akan
didapatkan. Ketika kebaikan tak pernah ada di dalam dirinya tanpa pernah memohon pengampunan atas segala
perbuatannya. Mungkin hanya dengan keadilan yang akan menuntun dirinya menuju kebaikan. Sejak dibentuk dari tahun 2012, mereka seolah ingin
menunjukkan sisi yang berbeda dari Death Metal itu sendiri. Tumbuh, berkembang dan ditempa di sebuah komunitas
GPC Underground Kota Boyolali, membuat diri mereka semakin kokoh dalam mengarungi kerasnya
dunia musik bawah tanah di Jawa Tengah. Bagi yang mungkin tak asing dengan nama kami, memang
benar bahwa sebenarnya Diminish Perception adalah sebuah plesetan nama dari judul lagu salah
satu band Technical Death Metal, Necrophagist – Diminish To be. Adapun prestasi yang pernah
didapatkan oleh band yang dikemudi oleh Ega (Vocal), Bhima (Guitar), Amink (Bass), dan Bejoys
(Drum), yaitu tepat pada 2017/2018 lalu mereka pernah menjadi band pembuka Vader serta living legend Europe
dalam rangkaian Tour Asia mengunjungi Indonesia.
Tak banyak grup musik di ranah Metal yang peduli dengan
isu-isu sosial. Kejujuran mereka pantas untuk diapresiasi. Karena karya indah adalah karya yang jujur dan
mengedukasi. Yang pantas digaris bawahi di sini adalah mereka berbahaya. Mesin pembunuh dalam gempita
perang geriliya. Jika kamu berharap kepalamu akan dikte dengan lirik-lirik tentang siksa neraka,
iblis-iblis entah brantah, dajjal dan sebagainya, mending jangan beli albumnya.
Akses juga kanal digital mereka:
[Benbenan/Amir]

Post a Comment